Orang - Orang Di Jalan. Kisah Samosir - Karo - Medan - Jakarta. A Graphic Record
Grafis para pemengaruh di “HeartVenture” #dompetdhuafa
Semua kisah berlangsung pada tahun 2025
Kisah Medan - Samosir - Karo
26 November
Perjalanan dimulai pukul 10 pagi. Ada saya, Fauzan, Kang Aiman (narasumber pemengaruh) dan rekan. Pengemudinya adalah Bang Chalid (koreksi kalau namanya salah). Estimasi perjalanan sekitar 5 jam-an. Jarak tempuh kurang lebih sekitar 220 km. Belum termasuk durasi perjalanan ferry dan antriannya. Cuaca saat itu mendung. “Sudah 2 minggu kayak gini,” kata Bang Chalid. Teringat malam sebelumnya, pesawat saya bergoyang cukup kencang sebelum mendarat..”Bhlarrr” hujan dan petir bersahutan.
Menjelang siang, kami singgah dulu membeli makanan. Ketika menunggu, Kang Aiman menjadi idola para Ibu-ibu disana. “Foto bareng, Kak!” Haha.
Perkenalkan: Aiman Ricky
Setelah jumlah bungkusan pas, kami menuju Parapat, pelabuhan penyeberangan ke Danau Toba. Ferry berangkat sekitar pukul 12.30. Durasi perjalanan sekitar 45 menit. Penumpang terlebih dahulu naik dek, kemudiaan kendaraan masuk sesuai antrian. Sedikit gerimis. Saya lupa memakai topi. Basah. Rombongan lain sibuk berfoto, tak sabar menuju Samosir.
Tak Sabar Menuju Samosir
Sesaat sebelum tiba di pelabuhan Ambarita, saya segera masuk mobil. Berlabuh, kemudian bersiap jalan. Dari pelabuhan kami belok kiri. Setelah setengah jam perjalanan, ada rintangan di depan….ternyata jalannya longsor!
Jalanan terpotong longsor
Alhasil, kami kembali ke arah semula. Setelah 2 jam-an, akhirnya kami tiba di Masjid Nurul Iman, desa Tambun Songkean. Ada sesi perkenalan dengan beberapa pemengaruh (Influencer), pembagian hadiah, dan ramah tanah. Malamnya, kami menginap di sebelah Masjid. Ada sesi berbagi cerita dari Kang Aiman.
Foto bareng (foto: Aryo Prasodjo)
Box of happiness (Foto : Aryo Prasodjo)
27 November
Selepas subuh, kami bersiap menuju Karo lewat darat. Perjalanannya bikin “deg-deg phlas” karena melalui rute Tele-Sidikalang, rute bukit berkelok nan indah. Menyebrang, jembatan yang dilewati bernama Aek Tano Pongol. Kami menuju Desa Aji Julu-Kabupaten Karo.
Demplot Dompet Dhuafa. Desa Aji Julu-Kabupaten Karo
Segar!
Tangkapan layar video grafis “HeartVenture”
Pulang ke Medan, gerimis tiada henti. Duduk di samping Pak Supir harus bisa jadi navigator suasana pula. Saya berinisiatif menyetel lagu jazz timur tengah. Duk, Tang, Dut! Perkusi dan klarinet bersahutan. Semacam pengusir rasa ngantuk. Waktu Maghrib jalanan batas kota sudah banjir. Putar sana-sini, jalanan banyak diblokir. Survey dadakan lewat G-Map tempat mana yang bisa disinggahi. Sampai akhirnya sekitar jam 9 malam, kami akhirnya bisa menginap di Grand Inna Medan.
Alhamdulillah…
Jalanan Medan
Jalanan Medan
Kisah Perjalanan darat Medan - Jakarta
28 November
Tim HeartVenture secara resmi pamit. Kang Aiman dan Fauzan pulang dengan pesawat. Saya, kebetulan pada tahun 2025, sudah lebih dari 20x naik pesawat. Tahun penuh badai. Kelamaan di pesawat yang selalu turbulensi, ngga baik buat jantung, hehe. Maklum sudah berumur :)
Pukul 6 sore, saya bersiap pulang naik bis “Sempati Star”.
Ngopi sebelum naik bis
29 November
Subuh bangun. Cuci muka. Bis berjalan meninggalkan perbatasan Sumatera Utara dan Riau
Penampakan bis yang saya tumpangi
Efek sosial langsung dari banjir.
Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Warga lokal (warlok) berdatangan, termasuk seorang berpakaian tentara. Kernet bis yang bernama Bagus, digiring paksa ke pojokan SPBU. Para penumpang yang dianggap terlibat perkelahian; Bang Asep, Bang Gunawan, Bang Pajar, Bang Tirta, dibawa paksa pula. Kemudian terdengar suara Bak! Buk! Semua orang dari pihak bis dipukuli.
Baku fisik
Baku fisik (2)
Makin sore, Suasana makin genting. Penumpang mulai lapar. Ada lansia dari Medan, ada yang mengungsi dari Aceh, ada balita dan ortunya. Aneka jajanan ala kadarnya sudah saya cicip. Ketika satu persatu pedagang pulang, kami menunggu di warung depan SPBU. Bang Ginting bolak-balik tanpa hasil mufakat.
Bis kami tak boleh pergi dari SPBU.
Menjelang Isya, Bang Gunawan, yang ditawan, dengan muka babak belur datang ke warung. “Ada yang punya 500 ribu, nggak?” Tanyanya. Semua menggeleng. Saya, duduk di sebelah menghampiri dan bertanya “Bang, kalau tebusannya segitu dan kita bisa pulang, ayok!” Kata saya.
Saya dan Bang Gunawan menuju pojok SPBU. Gelap gulita! Suara bak! Buk! Pemukulan para penumpang masih terjadi. Saya tiba, perasaan agak kecut, langsung permisi, “Izin, Abang-abang sekalian…saya mau nebus Rp 500.000. Penumpang lain sudah lelah dan lapar, kami ingin pulang!,” demi melihat saya, para Warlok melotot. Jujur, saya takut. Tapi ngga ada pilihan lain.
Akhirnya dari pihak warlok, bernama Bang Fulan dan Bang Wandi, mengajak saya ngobrol di pojokan.
Bang Fulan mengatakan bahwa bis saya sudah mau dibakar. Kalau penumpang lapor polisi pun percuma, karena yang dianggap memicu keributan, adalah kernet dan 4 penumpang tadi. Menurut pengakuan Bang Wandi, petugas SPBU, dia yang dipukul duluan.
Mereka minta tebusan 6 juta rupiah. “Semua lagi susah!” Katanya.
Saya menyanggupi. Demi penumpang lain yang sedang menunggu di warung. Saya usul mengadakan akad damai. Kemudian Warlok menggiring Bagus (kernet), Asep, Gunawan, Pajar, Tirta, ke hadapan saya dan Bang Wandi. Akad damai dimulai. Saya menelpon isteri agar mentransfer uang ke rekening Bang Wandi.
Saya mulai berakad dengan Bang Asep, perwakilan tersangka penumpang. Begini bunyinya:
“Demi Allah, saya, Bang Asep, mewakili yang lain, meminta maaf dan tak akan mengulangi perbuatan lagi. Dan Bang Asep dan teman-teman, akan menyicil ke Bang Agah, sebesar 6 juta rupiah”
Bang wandi, Bang Fulan, dan para warlok pun berucap damai.
Transferan berhasil. Bang Wandi sumringah. Kamipun sama. Setelah bersalaman, berfoto, dan pelukan seperlunya, kami segera naik bis. Tanpa menoleh ke belakang.
Saya lega bisa melanjutkan perjalanan. Bis beranjak dari SPBU pukul 10 malam. Sepanjang jalan saya memandangi siluet sawit, gelap, lelah, lapar dan belum mandi. Asep, Gunawan, Pajar, mengucapkan terima kasih. Suasana dalam bis hening. Pikiran saya berkecamuk : “Apa yang terjadi dengan bis ini bila saya naik pesawat? Apakah kejadian “penyanderaan” akan berlangsung? Walllahualam…
Masih ada satu hari lagi sampai kami menuju Bakauheni.
Ferry OTW Merak
Saya menggambar Bang Agus. Abang yang satu ini, sedikit penumpang yang atensinya luar biasa pada kejadian diatas
Setiba di Jakarta, Bang Asep dan yang lain pun tak ada kabar. Sudah diduga :)
Jakarta, 19 Februari 2026
Terima kasih Fajar dan Fauzan dari Dompet Dhuafa.
#mugibagja #dompetdhuafa #graphicrecording #heartventure
Kumpulan foto :



































Mantap kang
BalasHapusTerima kasih
Hapus